Kisah ini membawa kita pada masa Rasulullah SAW, tentang seorang sahabat yang mungkin namanya jarang disebut di barisan depan kavaleri perang, namun namanya sangat masyhur di langit. Ia adalah Julaibib radhiyallahu 'anhu.
Sosok yang Terasing
Julaibib adalah pria yang secara fisik dianggap tidak menarik oleh standar masyarakat Madinah saat itu. Ia pendek, fakir, dan tidak memiliki silsilah keluarga yang jelas—sesuatu yang sangat krusial dalam budaya Arab. Banyak orang yang membuang muka saat berpapasan dengannya. Ia terasing, kesepian, dan seringkali menjadi bahan cemoohan.
Namun, di mata Rasulullah SAW, Julaibib adalah jiwa yang murni. Suatu hari, Nabi bertanya kepadanya, "Wahai Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?"
Julaibib tersenyum getir dan menjawab, "Siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku, ya Rasulullah? Aku ini tidak memiliki harta maupun rupa."
Nabi menjawab dengan lembut, "Namun di sisi Allah, engkau tidaklah rendah."
Pinangan Sang Nabi
Rasulullah kemudian pergi ke rumah salah seorang Anshar yang terpandang untuk meminangkan putri mereka bagi Julaibib. Awalnya, sang ayah merasa ragu, dan sang ibu hampir menolak mentah-mentah karena membayangkan putri mereka yang cantik harus bersanding dengan Julaibib.
Namun, sang putri—seorang wanita yang hatinya dipenuhi cahaya iman—muncul dari balik tirai dan berkata, "Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, beliau tidak akan membawa kehancuran bagiku. Terimalah pinangan itu."
Pernikahan pun digelar. Keikhlasan sang putri dan ketaatan Julaibib menjadi buah bibir, membuktikan bahwa dalam Islam, kemuliaan hanya diukur dari ketakwaan.
Syahid di Medan Perang
Kebahagiaan pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Panggilan jihad berkumandang. Julaibib, yang selama hidupnya dianggap remeh, maju ke medan laga dengan keberanian yang meluap-luap.
Setelah pertempuran usai, Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat dan bertanya, "Apakah kalian kehilangan seseorang?"
Para sahabat menyebutkan nama-nama besar yang gugur. Namun Nabi bertanya lagi, "Apakah kalian merasa kehilangan seseorang?" Mereka menjawab tidak. Rasulullah kemudian berucap dengan nada sedih, "Tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia!"
Pelukan Sang Kekasih Allah
Mereka menemukan Julaibib tergeletak di tanah. Di sekelilingnya, terdapat tujuh jasad musuh yang berhasil ia kalahkan sebelum akhirnya ia sendiri gugur sebagai syahid.
Nabi Muhammad SAW datang, lalu berlutut di samping jasad Julaibib yang berdebu. Beliau mengangkat kepala Julaibib dan meletakkannya di atas pangkuan beliau. Rasulullah kemudian bersabda dengan penuh haru:
"Dia telah membunuh tujuh orang, kemudian mereka membunuhnya. Dia adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya. Dia adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darinya."
Rasulullah memangku jasad Julaibib cukup lama sampai liang lahat digali. Nabi sendiri yang menurunkan tubuh kecil itu ke dalam bumi dengan tangan beliau yang mulia.
Makna yang Menyentuh Hati
Kisah Julaibib adalah pengingat keras bagi kemanusiaan kita:
Harkat Manusia: Islam datang untuk meruntuhkan kasta sosial. Tidak ada manusia yang "kurang" hanya karena fisiknya, karena Allah melihat ke kedalaman hati.
Cinta karena Allah: Sang istri Julaibib mengajarkan kita bahwa kecantikan sejati adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, melampaui ego dan gengsi duniawi.
Penerimaan Tuhan: Seseorang bisa saja tidak dikenal di bumi (anonim), namun namanya bergema di Arsy karena pengorbanannya.
Julaibib mengajarkan kita bahwa menjadi "bukan siapa-siapa" di mata manusia bukanlah masalah, selama kita menjadi "seseorang" di mata Sang Pencipta.
"Kisah Julaibib ini mengingatkan kita pada [Uwais Al-Qarni], yang juga tidak dikenal di bumi namun sangat terkenal di langit."
Kisah Uwais Al-Qarni
Terima kasih sudah membaca. Untuk Anda yang menyukai gaya busana muslim modern yang tangguh, silakan cek koleksi jaket kami berikut ini:
Klik👇
Jaket Keren