Dilema di Tengah Ancaman Pemberontakan
Saat itu, Madinah sedang genting karena munculnya bibit-bibit pemberontakan dari kaum murtad. Banyak sahabat senior, termasuk Umar bin Khattab, merasa khawatir. Mereka menyarankan agar pasukan Usamah tetap di Madinah untuk berjaga-jaga dari serangan musuh yang mulai mengepung. Bahkan, muncul usulan agar komandan pasukan diganti dengan orang yang lebih senior.
Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan ketegasan yang luar biasa. Beliau berkata:
"Demi Allah, sekiranya burung-burung menyambar-nyambarku atau binatang buas menyeret kaki-kakiku, aku tetap tidak akan membatalkan perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam."
Penghormatan Sang Khalifah kepada Komandan Muda
Momen mengharukan terjadi saat pelepasan pasukan. Abu Bakar berjalan kaki sementara Usamah menunggangi kudanya. Ketika Usamah merasa tidak enak dan ingin turun, Abu Bakar melarangnya. Beliau berkata bahwa beliau ingin kakinya berdebu di jalan Allah meski hanya sesaat.
10 Etika Perang yang Legendaris
Di sinilah Abu Bakar memberikan 10 pesan etika perang yang menjadi standar kemanusiaan dalam Islam hingga hari ini, di antaranya:
- Dilarang membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua.
- Dilarang merusak pohon atau tanaman.
- Dilarang mengganggu pendeta di tempat ibadahnya.
Psychological Warfare Pertama dalam Islam
Keberangkatan pasukan ini selama 40 hingga 60 hari menjadi gertakan mental bagi musuh-musuh Islam. Para pemberontak berpikir: "Jika kaum Muslim berani mengirim pasukan keluar, berarti kekuatan di dalam Madinah pastilah sangat besar."
Keberhasilan misi ini bukan sekadar kemenangan militer di perbatasan Syam, melainkan strategi psikologis pertama dalam sejarah Khulafaur Rasyidin yang berhasil meredam nyali para pemberontak tanpa harus menghunuskan pedang di Madinah.
Tonton Video Kisahnya di Sini:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar